Rabu, 30 April 2014

Drama Remaja "Life Is Choice"





Mardianti Rukmana
Frida Aprilla
Resky Darmayuri
Marwani
Hardianti
Muh. Fajrin Affandy

LIFE IS CHOICE
“Hidup Adalah Pilihan”
                         Langit yang cerah untuk jiwa yang sepi, begitulah keadaan orang yang sedang galau, apalagi galaunya itu karena mau membeli suatu barang tapi nggak punya uang. Yah, begitulah yang dialami oleh murid yang bernama Isya.
            Suatu hari di sekolah, Isya sedang duduk termenung. Ia memikirkan bagaimana cara agar ia bisa memiliki tas baru karena tas miliknya sudah sobek. Setelah lama merenung, akhirnya ia memiliki ide.
Isya      :           “Wah... kayaknya sepi nih!.” (sambil menyelinap diam-diam).
            Akhirnya Isya pun mengambil tas milik temannya, lalu memasukkannya ke dalam tas miliknya.
Isya      :           “Akhirnya ada tommi kodongk tas baruku.”
            Esok harinya, Isya memakai tas tersebut. Ketika ia duduk di bangkunya, datanglah seorang murid yang bernama Dian menghampirinya dan berkata.
Dian     :           “Ehhh... coba lihat, miripki tasnu ini wani.”
Wani    :           “Mana? Coba ku lihat!.”
Dian     :           “Ini...”
Wani    :           “Iya yah...! Isya...punyamu ini?.”
Isya      :           “Iye’ tasku. Kenapa iyya?.”
Wani    :           “Samai tasku yang hilanga kemarin.”
Isya      :           “Ahhh... masa sih!.”
Dian    :           “Iyo weh...”
Isya     :           “Ini tas aku... beneran deh...!”
Wani   :           “Ngaku aja Isya...!.”
Isya      :           (hanya terdiam sambil menangis tersendak-sendak).
Dian    :           “Udah... ngaku aja!.”
Isya      :           “Astagfirullah.... ini tas aku kok! Kalian nuduh aku yah?.”
Wani   :           “Nggak kok... Bolehka’cekki?”.
Isya      :           “Maaf yah? Bukannya tidak mauka’. Tapi, buru-buruka’ belah.”
Dian    :           “Alasan kamu..udah ngaku aja! Kalau nggak aku lapor ke ruang BK!
Isya      :           “Beneran,... ini tas aku!”
Dian    :           “Ya udah kalau begitu... keci, yuk kita laporin ke ruang BK!” (pergi meninggalkan Isya).
Isya      :           “Aduh... gimana dongk ini? Gawat...”
            Beberapa hari kemudian, Isya bertemu dengan seorang laki-laki, laki-laki tersebut bernama Fajrin.
Fajrin   :           “Kamu anak SALIS yah?.”
Isya      :           “Iya... emang kenapa?”
Fajrin   :           “Mauko coba ini obat? Obat penenang fikiran.”
Isya      :           “Ahhh... nggak deh, makasih!”
Fajrin   :           “Emang kamu nggak mau?.”
Isya      :           “Mau sih mau, tapi tidak ada uangku belah! I don’t have a money.”
Fajrin   :           “Kalau begitu gratis deh buat kamu.”
Isya      :           “Are you sure?
Fajrin   :           “Apa anjo nukana?.”
Isya      :           “Serius? It’s free? Gratis betulan?.”
Fajrin   :           “Iyo bah...”
Isya      :           “Ok... makasih sama-sama.”(Pergi meninggalkan fajrin).
Fajrin   :           “Dasar bego...”
            Sesampainya di rumah, Isya mengamati obat tersebut.
Isya      :           “Obat penenang fikiran kok kayak terigu sih?. Mmm_aku minum aja deh..!”
Wani   :           “Isya...Isya!”
Isya      :           “Aduh... kakak aku manggil aku tuh! Iya kak...tunggu!”
            Karena dipanggil oleh kakaknya, Isya menunda untuk meminum obat tersebut dan menaruhnya di dalam tasnya.
            Keesokan harinya di sekolah, Isya sedang duduk di bangkunya. Tiba-tiba, datanglah Guru BK yang bernama Bu Resky menghampirinya.
Ibu       :           “Isya....  katanya Dian kamu ngambil tas Wani yah?.”
Isya      :           “Nggak Bu’....!”
Dian    :           “Alah.. mana ada maling yang ngaku! Udah bawa aja ke ruang BK Bu’!”
Isya                  :           “Beneran Bu’..aku nggak ngambil tasnya Wani!”
Ibu       :           “Wani... apa benar ini tas kamu?.”
Wani   :           “Nggak tahu bu’... yang jelas tas itu mirip dengan tasku yang kemarin hilang.”
Ibu       :           “Coba kamu periksa.”
Wani   :           “Isya? Apaan ini? Mirip sabu-sabu...”
Isya      :           “Ahhh... bukan kok! Itu cuman obat penenang fikiran.”
Ibu       :           “Iya... ini sabu-sabu! Kenapa sabu-sabu ini bisa ada di dalam tas kamu Isya?.”
Isya      :           “Apa? Ini sabu-sabu bu’? Tapi beneran bu’...saya belum mencobanya sedikitpun, aku kirain ini cuman obat penenang fikiran.”
Ibu       :           “Sekarang juga kamu ke ruang BK.”

            Isya pun pergi ke ruang BK. Dan tak lama kemudian, Isya berdiri di tengah lapangan. Ia sedang dihukum oleh Ibu Wani. Beberapa jam kemudian,
Ibu       :         “Hukuman kamu selesai. Lain kali jangan terlalu mudah untuk mempercayai orang lain, apalagi orang tersebut belum kamu kenal.”
Isya      :         “Baik Bu’...”
            Sepulangnya sekolah, Isya duduk di halte pinggir jalan. Tiba-tiba, datang seorang perempuan mengenakan pakaian yang syar’i menghampirinya.
Rilla     :           “Assalamu’alaikum...”
Isya      :           “Wa’alaikumsalam...”
Rilla     :           “Kok sendirian? Nggak baik loh anak sekolahan duduk sendirian di pinggir jalan. Oh iya, nama adek siapa?”
Isya      :           “Namaku Anthy, kak....nama kakak siapa?”
Rilla     :           “nama aku Kak Rillah. Adek lagi punya masalah yah? Udah cerita aja. Siapa tahu kakak bisa bantu!”
Isya      :           “Tapi?.”
Rilla     :           “Adek ragu yah? Kakak ini orang baik-baik kok... niatnya cuman mau nolongin adek!”
Isya      :           “Mmm....Gini kak... tadi Ibu BK menghukumku karena ia mendapati sabu-sabu di tasku. Dan tas itu adalah tas temanku yang kuambil.”
Rilla     :           “Adek nyolong tas teman adek yah? Trus sabu-sabu itu kok bisa ada di dalam tas adek?.”
Isya      :           “Ceritanya panjang kak... iya, aku nyolong tas teman aku kak.. aku bingung harus bagaimana. Kalau aku kembalikan pasti aku tidak dipercaya lagi.”
Rilla     :           “Beginilah hidup dek... hidup ini adalah pilihan. Adek mau terus-terusan merasa bersalah atau mau mengubah hidup adek menjadi lebih baik. Itu semua tergantung pilihan adek.”
Isya      :           “Gitu yah kak? Tapi aku takut kak, kalau aku terus terang nanti aku bakalan dikatain pencuri.”
Rilla     :           “Emangnya adek kenapa ngambil tas teman adek?.”
Isya      :           “Aku nggak punya uang untuk beli tas kak... terpaksa aku nyolong!.”
Rilla     :           “Ya udah, kalau begitu jujur saja.nggak usah takut... Allah besama kita. Masih ada waktu untuk memperbaiki kesalahan. Pergilah dan minta maaf kepada teman adek. Hidup ada di tangan adek... pilihan tergantung pada diri adek sendiri. Yang jelas, pilihlah yang terbaik untuk hidup adek, kebaikan di dunia maupun di akhirat.”
Isya      :           “Iya kak... makasih banyak! Kalau begitu saya pergi dulu kak... wassalamu’alaikum!.”
Rilla     :           “Wa’alaikumsalam.”
            Tiba-tiba,
            Isya tertabrak becak. Hidup Isya berakhir sampai di sini. Niatnya untuk meminta maaf tidak bisa ia laksanakan karena ajal telah menjemputnya.

Demikianlah drama yang berjudul “Life is Choice” ini.
            Yah, hidup adalah pilihan. Pilihan kita tergantung dari diri kita sendiri, begitupun dengan hidup. Kita yang memilih apakah hidup kita akan kita sia-siakan saja ataukah hidup kita digunakan untuk beribadah kepada Allah serta memperbanyak amal sholeh untuk bekal di akhirat kelak. Tiada yang bisa memastikan apa yang akan terjadi di hidup kita, bahkan kita tidak tahu apa yang akan terjadi ketika kita selesai menonton drama ini. Tapi yang pasti ajal sudah ditentukan dan kita tidak bisa mempungkiri itu. Tiada yang tahu kapan ajal akan tiba, karenanya pilihlah yang terbaik untuk hidup kalian, lakukan yang terbaik untuk diri kalian dan untuk orang-orang yang kalian cintai dan untuk orang-orang yang mencintai kalian. Lakukan yang terbaik sekarang juga, karena siapa tahu ajal kalian sudah hampir menjemput.
 

Senin, 27 Januari 2014

Hasil Wawancara yang telah didengarkan atau ditonton









Bahasa Indonesia

SMA Negeri 1 Sungguminasa

Kegiatan KD.1.2 dan 2.2


Wawancara di TV             :               Trans 7 – Hitam Putih
Hari/ tanggal                      :               Rabu, 9 Oktober 2013
Waktu                                   :               22:44 WITA
Topik/ tema                       :               Peran istri terhadap terjadinya kasus korupsi
Pewawancara                    :               Deddy Corbuzier
Narasumber                       :               Ade Wirawan
Pokok-pokok                     :               -      Suami bisa menjadi kepala dan istri sebagai leher;
-          Istri bisa berperan sebagai pencegah maupun pendorong;
-          Seorang istri patut mewaspadai pemberian suami;
-          Istri bisa dijadikan sebagai tempat pencucian uang;
-          Istri bisa ikut terseret dalam kasus korupsi.
Isi wawancara                     :                Istri dapat berperan sebagai pendorong maupun pencegah terjadinya kasus korupsi .
Rangkuman                         :                Dalam keluarga, suami  sebagai kepala dan istri sebagai leher yang berfungsi untuk mengatur arah kepala. Istri bisa berperan sebagai pencegah maupun pendorong akan terjadinya kasus korupsi. Jika istri mewaspadai pemberian suami, maka dapat berperan sebagai pencegah dan jika hanya menerima pemberian suami tanpa menanyakan  sumber penghasilan, maka dapat berperan sebagai pendorong, lalu dijadikan sebagai tempat pencucian uang dan akhirnya ikut terseret.

Kamis, 31 Oktober 2013

Analytical exposition

Assalamualaikum wr.wb.

I will discuss the analytical exposition. In this discussion there are 2 versions, the English version and Indonesian. Well, hopefully it is understandable


Analytical Exposition
An analytical exposition is a type of spoken or written text that is intended to persuade the listeners or readers that something is the case. To make the persuasion stronger, the speaker or writer gives some arguments as the fundamental reasons why something is the case. This type of text can be found in scientific books, journals, magazines, newspaper articles, academic speech or lectures, research report etc. Analytical expositions are popular among science, academic community and educated people. The generic structure of analytical exposition usually has three components: (1) Thesis, (2) Arguments and (3) Reiteration or conclusion.


A.Generic Structure of Analytical Exposition

1. Thesis : Introduces the topic and shows speaker or writer’s position;

                 Outlines of the arguments are presented.

2. Arguments : It consists about Point and Elaboration

Point, states the main argument

Elaboration, develops and supports each point of argument

3. Conclusion : Reiteration (restatement), restates speaker or writer’s position


B. Generic Features of Analytical Exposition
  1. An analytical exposition focuses on generic human and non human participants.
  2. It uses mental processes. It is used to state what the writer or speaker thinks or feels about something. For example: realize, feel etc.
  3. It uses emotive and evaluative words
  4. It often needs material processes. It is used to state what happens, e.g. ….has polluted… etc.
  5. It usually uses Simple Present Tense and Present Perfect Tense.
  6. Enumeration is sometimes necessary to show the list of given arguments: Firstly, secondly …, Finally, etc.
  
Now, look at the following example:

EXAMPLE I

Controlling Children Using Computer



Computer and internet are useful as well as powerful. Information about health and safe usage of computer and Internet, especially for children, should be owned by each family. Computer connected to internet is powerful way to socialize with others. It can be good but also bad effect. Recently we hear a lot of children get the advantage of social networking sites but we often see the news about the disadvantage of it for children. Healthy and safety of computer and Internet usage should continue to be campaigned.

The role of parent in assisting and directing children in using computer is very necessary. Installation of software monitor such as key logger which has function to watch and note all activities relating to keyboard usage is helpful but not enough to protect children from potential harms. Children tend to hide what they have done in front of the computer to their parent. They see that all of they have done are their privacy and no one may know.
We can not prevent children from using computer because it is multifunctional. However, many parents worry about what their kids do in front of the computer; whether they are doing homework or even just playing games. Or spending all time to surf internet which is the materials do not fit with his age. There is a tendency, especially teenagers, want to become acquainted with many strangers out side. The lack parental supervision of children’s activities is likely to pose a potential danger to them. So parental monitor against the use of computers needs to be done from time to time.





EXAMPLE II
Thesis:
Corruption has happened for many years and today it becomes a bad culture in Indonesia for three reasons


Argument 1:


Most adult Indonesian or foreigners have known and admitted that corruptions happen in many places. The daily newspapers, news programs on TV and radio have reported corruptions are done everywhere, almost in all departments or public services of this country. Corruptions happen in health, education departments and banks. When we manage to get some documents in public service offices, we usually need much money to pay. Manipulations happen everywhere


Argument 2:


The actions to eliminate corruption are weak. The ever stronger culture seems not to come to an end when the responsible institutions who have to reinforce the justice today commit corruption. This is the worst. Corruptions happen in police department, courts where judges, public prosecutors, lawyers make deals to do corruption. All of us also heard in the end of 2004, Probosutejo reported that he had bribed the Supreme Court, or called Mahkamah Agung which becomes the highest level where the justice can be obtained. Perhaps you have to try to come to the local courts and see what happen there. You will see practices of bribery and other kinds of corruption. Therefore, we can say that corruptions becomes our culture. Do you like it?


Argument 3:


The citizens have no goodwill to fight against the corruption. They create the situations in which people have opportunities to do corruptions. The citizens like to break the rules because they are not disciplined. For example, in the street when they drive a car or ride motorcycle, they do not have the driving license or necessary documents. Then, they are caught by the local policemen. To avoid more difficulties, they like to bribe the officer. The officer let them go then. In other words, the citizens and officers are the same, doing corruption together. If only the people were critical, disciplined, and obey the rules, and willing to report any wrong behaviors, this country will not be number one corrupting country in the world.


Reiteration/ conclusion:


Conclusion Based on the reasons, we can conclude that corruption is becoming a bad culture in Indonesia if it is not ended soon by all of us. It seems that there must be more severe penalty for the Corruptors. Do we still care about the future of this country?


Pengertian Paragraf Eksposisi, Contoh Paragraf Eksposisi


Paragraf Eksposisi adalah paragraf atau karangan yang mempunyai tujuan untuk memberikan informasi tentang sesuatu sehingga bisa memperluas pengetahuan pembaca. Paragraf eksposisi bersifat ilmiah/ nonfiksi. Sumber karangan paragraf eksposisi ini bisa diperoleh dari hasil pengamatan, penelitian atau pengalaman
Macam macam paragraf eksposisi

1. eksposisi definisi

2. eksposisi proses

3. eksposisi klasifikasi

4. eksposisi ilustrasi (contoh)

5. eksposisi perbandingan & pertentangan, dan

6. eksposisi laporan


Ciri ciri paragraf eksposisi
1. berupa tulisan yang memberikan pegertian dan pengetahuan
2. menjawab pertanyaan tentang apa, mengapa, kapan, dan bagaimana;
3. disampaikan secara lugas dengan menggunakan bahasa baku

4. Bersifat netral, dalam artian tidak memihak, dan memaksakan sikap penulis terhadap pembaca

Contoh paragraf eksposisi:

1. Contoh Paragraf Eksposisi Definisi
Bekam atau hijamah ialah sebuah teknik pengobatan yang dilakukan dengan jalan membuang darah kotor (racun yang berbahaya) dari dalam tubuh lewat permukaan kulit. menurut pemahaman umum, sebenarnya ia berfungsi untuk membuang darah yang telah rusak atau teroksidasi karena tingginya oksidan dalam tubuh.

2. Contoh Paragraf Eksposisi Proses
Hingga saat ini, bantuan untuk para korban letusan gunung merapi belum merata. Hal ini bisa disaksikan di beberapa wilayah sleman. Misalnya, di Desa P. Sampai saat ini, warga Desa P hanya makan singkong. Mereka mengambilnya dari beberapa kebun warga. Jika ada warga yang makan nasi, itu adalah sisa-sisa beras yang mereka kumpulkan di balik reruntuhan bangunan. Keadaan seperti ini menunjukkan bahwa bantuan pemerintah belum merata.


so many of my discussion of analytical exposition. We apologize if there is a deficiency or excess because that makes a human being. Therefore, if you want to give feedback, criticism, or suggestions, please leave a comment  ^ _ ^ thank you.

 Wassalamualaikum wr.wb.